Final Results All England Premier SS 2011 Tiga Milik China, Denmark & Malaysia Raja Sektor Putra

Posted: Kamis, 17 Maret 2011 by Tri Suciyati in
0

Meskipun sebagian besar para pemain muda China tumbang lebih awal atau kalah tak terduga di turnamen ini namun pada akhirnya sang negeri tirai bambu tetap berhasil menjadi yang terbaik dengan mengoleksi tiga gelar. Sementara itu di dua sektor lainnya, dominasi para pemain Denmark dan Malaysia kembali memukau penonton yang memadati National Indoor Arena tadi malam.

Permainan reli-reli panjang yang tersaji antara unggulan teratas, Wang Sixian dan ‘underdog’ sudah mewarnai jalannya pertandingan di set pertama. Meskipun Wang lebih diunggulkan, keberhasilan ‘tak terduga’ Eriko yang lolos hingga babak semifinal mengundang simpati banyak pihak yang menyaksikan pertandingan ini secara langsung di stadium. Perminainan yang lebih banyak dibumbui oleh laga di depan net dan penempatan bola-bola sulit mampu didominasi oleh Shixian hingga jeda interval 11-7 dan terus berlanjut hingga 17-12. Namun lima poin beruntun yang diperoleh Eriko dari hasil kelincahan permainannya di depan net semakin seru ketika terjadi kejar mengejar perolehan poin hingga Eriko mencapai match point lebih dulu 20-19.

Keadaan berbalik menjadi keunggulan Shixian ketika ‘backhand smash’ yang dilancarkannya gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Hirose dan dua pukulan pendek Shixian di depan net akhirnya menutup set ini 24-22 untuk putri China. Eriko sebenranya mampu mengimbangi kelincahan dari Shixian dan fokus terhadap permainan, beberapa pukulan smash ‘tak terduga’ dan pengembalian silang yang sulit ditebak dari tengah lapangan membuat perolehan poin berjalan lebih imbang.

“Saya merasa cukup gugup di set pertama, terutama saat perbedaan poin menjadi sangat dekat”, aku Shixian. “Namun saya berhasil tampil lebih rileks dan akhirnya memenangkan poin demi poin” lanjutnya kemudian.

Sementara itu di set kedua, Eriko hanya mampu mendominasi jalannya pertandingan hingga kedudukan 8-6, namun setelah Wang berhasil menggempur pertahanan Eriko dengan pukulan-pukulan dropshotnya dan meningkatkan tempo serangan, Eriko kembali tertinggal 8-11 ketika jeda interval. Dominasi tunggal China terus berlanjut hingga kedudukan kritis 17-12 dan 20-16. Meskipun sempat mencoba untuk bangkit dengan maraih dua poin beruntun, Eriko akhirnya dipaksa menyerah 18-21 oleh peraih gelar Malaysia Open Premier SS 2011 tersebut.

“Saya membuat beberapa kesalahan sendiri khususnya di set kedua namun saya telah berusaha yang terbaik dan saya bangga dengan itu”, ungkap pebulutangkis negeri sakura yang menyingkirkan pemain bersinar Saina Nehwal dalam laga perempatfinal sebelumnya ini. “Saya semakin percaya diri dengan torehan prestasi saya di turnamen ini dan saya berharap bisa membantu tim Jepang untuk memenangkan piala Uber suatu saat dan menjadi tunggal terbaik dunia”, paparnya kemudian.

Sementara satu-satunya partai final yang tidak melibatkan pemain China akhirnya menjadi ‘match of the day’ yang sangat dinanti oleh para penonton. Satu-satunya utusan Eropa yang tersisa, Mathias/ Carsten bukan hanya berhasil mempersembahkan gelar semata wayang bagi kubu Eropa namun juga mampu mempertunjukkan pertandingan menghibur ketika menjamu duo negeri jiran, Koo Kien Keat/ Tan Boon (5) yang sukses menekuk Markis/ Hendra dan Fu/Cai di laga sebelumnya.

Di set pertama, Koo/Tan mendominasi jalannya pertandingan meskipun dari sisi serangan dan pertahanan kedua pasangan berimbang namun beberapa penempatan bola-bola ganda Malaysia yang sulit ditebak berhasil membuahkan keunggulan 21-15 bagi Koo/Tan. Namun di paruh akhir set kedua setelah sempat terpuruk 6-10, Mathias/Carsten mampu bangkit dan membalikkan keadaan 12-10 dan 14-11. Kejar mengejar angka kembali terjadi hingga skor 18-18, namun permainan taktis pasangan Denmark akhirnya berhasil memperpanjang nafas untuk rubber set 21-18.

Ganda Malaysia kembali menjadi dominan di set ketiga. Unggul 9-4 di awal set, Koo/Tan seperti tak terbendung ketika bola-bola drive yang sangat cepat dan dipadu dengan permainan pengembalian pendek di depan net yang tak terduga arahnya mengantar mereka untuk terus unggul hingga 16-11. Namun di titik ini ganda Denmark ternyata mengubah taktik serangan dengan Boe yang lebih banyak berdiri di depan net untuk ‘membunuh’ bola ketika Carsten mencoba untuk menurunkan bola-bola yang menggempur bagian belakang lapangan. Mendapatkan 7 poin beruntun yang mengubah kedudukan menjadi berbalik unggul 17-16, duet Denmark seperti mendapatkan kesempatan kedua untuk terus meningkatkan tempo serangan 19-17 dan akhirnya menyudahi set ini 21-18.

“Kekalahan tipis kami di babak final tahun kemarin sungguh mengecewakan dan bisa memenangkannya di tahun ini dengan kondisi yang sama sungguh suatu perasaan yang luar biasa” ungkap Carsten usai pertandingan. “Benar-benar sulit dipercaya! Perasaan yang sulit untuk digambarkan.” lanjutnya seraya tersenyum puas.

Partai ketiga yang diharapkan penonton akan terjadi permainan seru yang serupa ternyata berjalan tak sesuai skenario. Duet Jepang yang tampil dominan, Mizuki/ Reika saat menantang sang penakluk dua ganda senior China, Shizuka/ Mami bermain jauh di bawah performa terbaik mereka ketika menantang duet Yu Yang/ Wang Xiaoli yang diunggulkan di tempat ke-3. Antiklimaks penampilan Mizuki/ Reika ini tidak hanya terlihat dari dominasi yang sangat kuat dari pasangan China namun juga banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh pasangan Jepang. Hanya kurang dari 30 menit, ganda negeri sakura kalah telak, 2-21, 9-21.

China kembali menambah gelar di turnamen ini ketika duet Thailand, Sudket/Saralee gagal menampilkan performa terbaik mereka seperti saat menjungkalkan ganda China lainnya, Tao Jiaming/ Tian Qing di babak perempatfinal yang lalu. Beberapa kali Saralee sempat kecewa karena banyaknya kesalahan sendiri yang seharusnya tidak perlu di lakukan. Bahkan saking kesalnya dengan permainannya sendiri, begitupun Sudket yang diakhir set kedua dengan sengaja membiarkan pengembalian bola ‘mudah’ Ma Jin masuk ke lapangannya dan dengan serta merta menjabat Xu Chen sebagai pertanda selamat atas ke menangan mereka.

Kemenangan telak 21-13, 21-9 atas tandem Thailand ini setidaknya mampu mengobati kekecewaan atas menurunnya performa sebagian besar pebulutangkis China di turnamen ini. Ma Jin sendiri mengaku senang bisa berpasangan dengan Xu yang bertubuh cukup jangkung sehingga memudahkannya untuk terus melancarkan serangan bagi duet Sudket/Saralee. “Saya berharap bisa terus berpasangan dengan Xu Chen untuk mempertahankan gelar juara dunia tahun lalu bersama Zheng Bo”, tutupnya usai pertandingan.

Di partai penutup giliran China yang dibuat kecewa oleh penampilan tunggal terbaiknya, Lin Dan (3) saat menjamu peringkat satu dunia, Lee Chong Wei. Pergerakan Lee yang lebih lincah yang dipadu dengan penempatan bola-bola yang akurat dan sulit dijangkau membuatnya mampu mendominasi jalannya pertandingan. Seteah unggul 11-10 saat jeda interval, Lee seperti tak terbendung, 17-10. Namun berkat akurasi dan konsistensinya, Lin Dan berhasil memperkecil selisih poin menjadi 17-18. Di titik ini, mental Lee sempat turun namun kesalahan sendiri yang dilakukan bertubi dari Lin Dan saat gagal menyebrangkan bola di depan net kembali membuat Lee di atas angin dan mengakhiri set ini 21-17.

Lee Chong Wei kembali menguasai jalnnya pertandingan set kedua hingga kedudukan 14-10 dan 16-13. Namun untuk keduakalinya Lin Dan kembali berhasil mengunci Lee untuk menyamakan kedudukan di angka 17. Beberapa bola ‘tipu’ yang ditutup dengan smash-smash tajam Lee dan pukulan dropshotnya kembali membuat Lee unggul 19-17. Pertahanan Lee yang sempurna saat membloking bola yang ditutup oleh pukulan menyilang Lin Dan yang terlalu melebar akhirnya memastikan Lee untuk menamatkan set ini lebih dulu 21-17.

“Tidak seperti permainan saya yang biasanya, hari ini saya membuat banyak kesalahan sendiri”, cerita tunggal peraih multigelar yang berhasrat untuk gantung raket setelah Olimpiade London usai pertandingan. Kekalahan ini sekaligus menggagalkan impian Lin Dan untuk menimang gelar All England kelimanya sedangkan bagi Malaysia gelar ini cukup ampuh untuk mengobati kekecewaan mereka yang tetap setia mendukung pahlawan idolanya setelah ganda putra mereka mengalami kekalahan di laga sebelumnya.


SUMBER: http://bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6840

BEBERAPA PERISTIWA PENTING DALAM SEJARAH PENENTUAN STANDAR AKUNTANSI INTERNASIONAL

Posted: by Tri Suciyati in
0

1959 – Jacob Kraayenhof, mitra pendiri sebuah firma akuntan independen Eropa yang utama, mendorong agar usaha pembuatan standar akuntansi internasional dimulai.

1961 – Groupe d’Etudes, yang terdiri dari akuntan professional yang berpraktik, didirikan di Eropa untuk memberikan nasihat kepada pihak berwenang Uni Eropa dalam masalah-masalah yang menyangkut akuntansi.

1966 – Kelompok Studi Internasional Akuntan didirikan oleh institute professional di Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat.

1973 – Komite Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards Committee – IAS) didirikan.

1976 – Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economi Coorporation and Development – OECD) mengeluarkan Deklarasi Investasi dalam Perusahaan Multinasional yang berisi panduan untuk “pengungkapan informasi”.

1977 – Federasi Internasional Akuntan (International Federation of Accounting – IFAC) didirikan.

1977 – Kelompok Para Ahli ditunjuk oleh Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-bangsa mengeluarkan laporan yang terdiri dari empat bagian mengenai Standar Internasional Akuntansi dan Pelaporan bagi Perusahaan Transnasional.

1978 – Komisi Masyarakat Eropa mengeluarkan Direktif Keempat sebagai langkah pertama menuju harmonisasi akuntansi Eropa.

1981 – IASC mendirikan kelompok konsultatif yang terdiri dari organisasi nonanggota untuk memperluas masukan-masukan dalma pembuatan standar internasional.

1984 – Bursa Efek London menyatakan bahwa pihaknya berharap agar perusahaan-perusahaan yang mencatatkan sahamnya tetapi tidak didirikan di Inggris atau Irlandia menyesuaikan dengan standar akuntansi internasional.

1987 – Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO) menyatakan dalam konferensi tahunannya untuk mendorong penggunaan standar yang umum dalam praktik akuntansi dan audit.

1989 – IASC mengeluarkan Draf Eksposur 32 mengenai perbandingan laporan keuangan. Kerangka dasar untuk Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan diterbitkan oleh IASC.

1995 – Dewan IASC dan Komisi Teknis IOSCO menyetujui suatu rencana kerja yang penyelesaiannya kemudian berhasil mengeluarkan IAS yang membentuk suatu kelompok inti standar yang komprehensif. Keberhasilan dalam penyelesaian standar-standar ini memungkinkan Komisi Teknis IOSCO untuk merekomendasikan pengesahan IAS dalam pengumpulan Modal lintas batas dan keperluan pencatatan saham di seluruh pasar global.

1995 – Komisi Eropa mengadopsi sebuah pendekatan baru dalam harmonisasi akuntansi yang akan memungkinkan penggunaan IAS oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan pencatatan saham dalam pasar modal internasional.

1996 – Komisi Pasar Modal AS (SEC) mengumumkan bahwa pihaknya “mendukung tujuan IASC untuk mengembangkan, secepat mungkin, standar akuntansi yang dapat digunakan untuk menyusun laporan keuangan yang dapat digunakan dalam penawaran surat berharga lintas batas”.

1998 – IOSCO menerbitkan laporan “ Standar Pengungkapan Internasional untuk Penawaran Lintas Batas dan Pencatatan Saham Perdana bagi Emiten Asing”.

1999 – Forum Internasional untuk Pengembangan Akuntansi (International Forum on Accountancy Development – IFAD) bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Juni.

2000 – IOSCO menerima, secara keseluruhan, seluruh 40 standar inti yang disusun oleh IASC sebagai jawaban atas daftar keinginan IOSCO tahun 1993.

2001 – Komisi Eropa mengusulkan sebuah aturan yang akan mewajibkan seluruh perusahaan EU yang tercatat sahamnya pada suatu pasar yang diregulasi untuk menyusun akun-akun konsolidasi sesuai dengan IAS selambatnya tahun 2005.

2001 – Badan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards Board – IASB) menggantikan IASC dan mengambil alih tanggung jawabnya pertanggal 1 April Standar IASB disebut sebagai Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) dan termasuk di dalamnya IAS yang dikeluarkan oleh IASC.

2002 – Parlemen Eropa menyetujui proposal Komisi Eropa bahwa secara nyata seluruh perusahaan EU yang tercatat sahamnya harus mengikuti standar IASB dimulai selambat-lambatnya tahun 2005 dalam laporan keuangan konsolidasi. Negara-negara anggota dapat memperluas ketentuan ini terhadap laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan pencatatan saham dan perusahaan secara individu. Dewan Eropa kemudian mengadopsi aturan yang memungkinkan hal ini tercapai.

2002 – IASB dan FASB menandatangani “Perjanjian Norwalk” yang berisi komitmen bersama terhadap konvergensi standar akuntansi internasional dan AS.

2003 – Dewan Eropa menyetujui Direktur EU Keempat dan Ketujuh yng diamandemen, yang menghapuskan ketidakkonsistenan antara direktif lama dengan IFRS.

2003 – IASB menerbitkan IFRS 1 dan revisi terhadap 15 IAS.



Sumber: Makalah Akuntansi Internasional


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE

AKUNTANSI INTERNASIONAL UNTUK PERUBAHAN HARGA

Posted: by Tri Suciyati in
0

Inflasi merupakan fenomena dunia yang banyak terjadi di Negara berkembang, namun kecenderungan yang ada di Negara maju mengadopsi “akuntansi inflasi” untuk memperbaiki penyimpangan dari convensional historical cost accounting yang memasukkan unsure perubahan harga dan inflasi pada pendapatan dan asset.


A. Pengaruh Inflasi pada Perusahaan

Inflasi mempengaruhi posisi keuangan dan kinerja suatu perusahaan, misalnya manajer dapat mengambil keputusan operasional yang tidak efisien jika ia tidak memahami pengaruh inflasi. Dalam kaitan dengan posisi keuangan, asset keuangan akan berkurang nilainya selama inflasi karena berkurangnya daya beli. Oleh karena itu, diperkenalkan alternative sistem akuntansi inflasi, yaitu general purchasing power accounting dan current value accounting.


B. Alternatif Pengukuran Akuntansi

1. General Purchasing Power (Akuntansi Daya Beli Umum)
General Purchasing Power accounting meliputi semua sistem yang dirancang untuk menjaga real purchasing power dari modal pemilik perusahaan dengan akuntansi untuk perubahan dalam tingkat harga. Filosofi utama adalah melaporkan asset, liabilities, pendapatan, dan expense dalam unit moneter dan daya beli yang sama. Menurut GPP bagian non keuangan dalam laporan keuangan dinilai ulang untuk mencerminkan suatu kesamaan daya beli atau common purchasing power umumnya pada akhir tanggal neraca. Sedangkan untuk laporan keuangan asset dan liabilities yang berupa aktiva lancar tidak disesuaikan karena biasanya stabil dalam periode daya beli 31 Desember, namun asset lain, pendapatan dan biaya harus disesuaikan.


2. Current Value Accounting (Akuntansi Arus Nilai Saat ini)
CVA meliputi semua system untuk menghitung nilai sekarang atau perubahan dalam harga khusus mencakup current cost accounting, replacement accounting, dan current exit price accounting / selling price accounting. CVA berkaitan dengan naik turunnya nilai asset tertentu bukan menurunnya daya beli sekarang, income tidak dipertimbangkan.
Ada dua pendekatan utama dalam CVA. Pertama, current cost/ replacement cost (Biaya Pengganti) yang banyak digunakan dalam asset nonmoneter yakni asset dinilai pada apa yang dikorbankan untuk menggantikannya. Kedua, current exit price / selling price / net realiable value (Biaya Penjualan) menilai asset pada tingkat harga penjualan dikurangi biaya pelengkap penjualan. CVA berakibat dalam holding gains dan kerugian saat asset non keuangan dinilai ualng dan lebih kompleks pengelolaannya.


3. Current Value : GPP Accounting

GPP dan CVA digabungkan dalam real value system.


C. IASB terhadap Akuntansi untuk Perubahan Harga dan Inflasi
Hal pertama yang ditunjukkan IASC, atau sekarang disebut IASB mengenai akuntansi inflasi yang muncul pada tahun 1977 di IAS 6, yaitu Respon Akuntansi pada Perubahan Harga. Pada poin tersebut, tidak ada standar definitive baik itu di Amerika Serikat atau di Inggris, dan ada ketidakpastian seperti bagaimana masalah akuntansi inflasi dapat diselesaikan di dua Negara tersebut.
Standar inflasi yang lebih definitive tidak muncul, hingga sampai pada tahun 1981 dengan keluarnya IAS 15, yaitu Refleksi Informasi Dampak Perubahan Harga, yang menggantikan IAS 6. Pada saat itu, FASB telah mengeluarkan SFAS 33 mengenai Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga.

Tipe-tipe utama informasi berikut ini mereflesikan dampak-dampak perubahan harga yang direkomendasikan untuk pengungkapan oleh IAS 15 sebagai berikut:

1. Jumlah penyesuaian untuk atau jumlah penyesuaian penyusutan properti, bangunan dan peralatan.
2. Jumlah penyesuaian untuk atau jumlah penyesuaian dari harga pokok penjualan.
3. Penyesuaian yang berkaitan dengan pos-pos keuangan, dampak peminjaman, atau bunga kepemilikan ketika penyesuaian ini telah dimasukkan ke dalam akun dalam menentukan pendapatan di bawah metode akuntansi yang diadopsi.

4. Dampak keseluruhan dari hasil atau pendapatan dari penyesuaian sebagaimana pada pos-pos lainnya yang mereflesikan dampak perubahan harga yang dilaporkan dibawah metode akuntansi yang diadopsi.
5. Ketika metode biaya sekarang diadopsi, biaya sekarang untuk property, bangunan, dan peralatan serta persediaan.
6. Metode yang diadopsi untuk menghitung informasi yang disebut dalam pos-pos sebelumnya, termasuk sifat dari indeks yang digunakan.
Hal yang membuat IAS 15 penting adalah karena IAS 15 mengenali kebutuhan informasi untuk diungkapkan, mengenai dampak peruabahan harga dan inflasi, serta memberikan pedoman khusus yang dapat diikuti oleh berbagai perusahaan untuk memperbaiki kualitas pengungkapan. Fakta bahwa adanya informasi pokok dari satu Negara ke Negara lainnya bisa berbeda, tentu saja ini menjadi masalah, tetapi profesi akuntansi jelas tidak bias diseseuaikan dengan solusi dunia.



Sumber: Makalah Akuntansi Internasional


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE

INTERNASIONALISME PASAR MODAL

Posted: by Tri Suciyati in
0

Faktor yang banyak menyumbang perhatian lebih terhadap akuntansi internasional dikalangan eksekutif perusahaan, investor, regulator paar, pembuat standar akuntansi dan para pendidik ilmu bisnis adalah internasionalisasi pasar modal seluruh dunia.


Federasi Pasar Modal Dunia (World Federation of Exchanges) melaporkan bahwa perusahaan domestic mencatatkan sahamnya meningkat di beberapa pasar dan menurun di beberapa pasar lainnya selama masa-masa dekade sekarang, yang sebagian disebabkan oleh merger dan akuisisi, yang juga berakibat pada penghapusan pencatatan saham (delisting) yang dilakukan beberapa perusahaan yang terkait.


Tiga wilayah pasar ekuitas terbesar adalah, Amerika Utara, Asia Pasifik, dan Eropa.


Amerika Utara
Ekonomi AS dan pasar sahamnya mengalami pertumbuhan tanpa henti selama tahun 1990 pada tahun 2000, baik NYSE maupun Nasdaq mendominasi bursa efek lain diseluruh dunia dalam hal kapitalisasi pasar, nilai perdagangan saham domestik, nilai perdagangan saham asing modal yang diperoleh perusahaan yang baru terdaftar, jumlah perusahaan domestic yang mencatatkan saham dan jumlah perusahaan asing yang mencatatkan sahamnya.


Asia
Asia diperkirakan akan menjadi wilayah pasar ekuitas kedua terpenting. RRC (Republik Rakyat Cina) muncul sebagai perekonomian global utama dan Negara-negara “Macan Asia” mengalami pertumbuhan dan pembangunan yang fenomenal.

Beberapa krisis keuangan di Asia menunjukkan kerentanan dan ketidakmatangan perekonomian di Asia dan memperlambat petumbuhan pasar modal di wilayah ini. Ditambah lagi pendapat dari kritikus mengenai lemahnya pengukuran akuntansi, pengungkapan dan standar auditing serta pengawasan dan penegakan implementasi standar tersebut.

Namun demikian prospek pertumbuhan masa depan dalam pasar ekuitas Asia tampak kuat. Kapitalisasi pasar sebagai presentase dar produk domestik bruto (Gross Domestic Product-GDP) di Asia terbilang rendah dibandingkan di Amerika Serikat dan beberapa pasar utama Eropa, yang menunjukkan bahwa pasar ekuitas dapat memainkan peranan yang lebih besar di perekonomian Asia.


Eropa Barat
Eropa adalah wilayah pasar ekuitas terbesar kedua di dunia dalam hal kapitalisasi pasar dan volume perdagangan. Perluasan ekonomi secara signifikan turut menyumbangkan pertumbuhan pasar ekuitas yang epat selama paruh kedua tahun 1990-an. Faktor terkait di Eropa kontinental adalah perubahan perlahan menuju orientasi ekuitas yang sudah lama menjadi ciri pasar ekuitas London dan Amerika Utara.


PASAR EKUITAS EROPA
Pasar modal Eropa sedang mengalami perubahan besar dalam waktu singkat, sebagian dikarenakan globalisasi perekonomian dunia dan meningkatnya integrasi ekonomi di dalam Uni Eropa.

Budaya Ekuitas yang baru di Eropa Kontinental

Tumbuhnya budaya ekuitas di Eropa merupakan dasar untuk memperkirakan pertumbuhan kelanjutan di pasar Ekuitas Eropa. Persaingan yang intensif di kalangan bursa efek Eropa memicu timbulnya perkembangan suatu budaya ekuitas, yang kemudian menjadi lebih berorientasi ke investor untuk meningkatkan kredibilitas dan menarik pencatatan saham baru.

Banyak regulator efek dan bursa efek Eropa telah melaksanakan aturan pasar yang lebih ketat dan memperkuat upaya penegakan aturan. Meski demikian, persaingan ketat juga menyebabkan bursa efek dan regulator nasional untuk mempermudah aturan pencatatan saham dan memberikan pengecualian khusus bagi perusahaan penerbit saham.

Meski selama tahun 1990-an perusahaan di Eropa kontinental telah memulai corporate governance untuk menarik modal baru dan minat investor, namun banyak perusahaan termasuk diantaranya perusahaan terbesar di dunia, masih tertinggal jauh dari pengungkapan dan standar pencatatan saham yang ada di Inggris dan Amerika Utara.



Sumber: Makalah Akuntansi Internasional


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE

SEJARAH AKUNTANSI INTERNASIONAL

Posted: by Tri Suciyati in
0

Awalnya, Akuntansi dimulai dengan sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15. Sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping), dianggap awal penciptaan akuntansi. Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli.


Luca Pacioli lahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia. Lucalah orang yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system dalam bukunya berjudul: Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip dasar double accounting system bukanlah ide murni luca namun dia hanya merangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan mempublikasikannya. Hal ini diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998) “Pacioli did not claim that his ideas were original, just that he was the one who was trying to organize and publish them. He objective was to publish a popular book that could be used by all, following the influence of the venetian businessman rather than bankers”. Praktek bisnis dengan metode venetian yang menjadi acuan Luca menulis buku tersebut telah mejadi metode yang diadopsi tidak hanya di Italia namun hamper disemua Negara Eropa seperti Jerman, Belanda, dan Inggris.


Luca memperkenalkan 3 (tiga) catatan penting yang harus dilakukan:
1. Buku Memorandum, adalah buku catatan mengenai seluruh informasi transaksi bisnis.
2. Jurnal, dimana transaksi yang informasinya telah disimpan dalam buku memorandum kemudian dicatat dalam jurnal.
3. Buku Besar, adalah suatu buku yang merangkum jurnal diatas. Buku besar merupakan centre of the accounting system (Radebaugh, 1996).


Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial.


“Pembukuan ala Italia” kemudian beralih ke Jerman untuk membantu para pedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsuf bisnis Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodik dan pemerintah Perancis menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.


Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntan publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktek akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris. Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia. Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia.


Paruh Pertama abad 20, sering tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh akuntansi semakin terasa di Dunia Barat.


Bagi banyak Negara, akuntansi merupakan masalah nasional dengan standar dan praktek nasional yang melekat erat dengan hukum nasional dan aturan profesioal.



Sumber: Makalah Akuntansi Internasional


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE

LINGKUNGAN AUDIT INTERNASIONAL

Posted: Rabu, 02 Maret 2011 by Tri Suciyati in
0

LINGKUNGAN AUDIT INTERNASIONAL

Lingkungan Auditing di Jerman, Jepang dan Belanda


Jerman

Profesi akuntansi di Jerman berciri-ciri, standar pendidikan yang tinggi untuk dapat diterima, ukuran yang kecil (sekitar 7.500 anggota), kendala-kendala peraturan yang sangat kompleks, dan kepemimpinan internasional yang penting, terutama berkaitan dengan EC.

Organisasi profesi di Jerman bercabang dua-oleh hokum semua Wirtschaftsprufer (WP) harus dimiliki oleh Chamber of Public Accountants. Sekitar 90% dari mereka juga merupakan anggota dari badan bebas, The Institute of WP. Chamber of Public Accountants mengeluarkan aturan-aturan etika dan meneliti keluhan-keluhan mengenai tingkah laku yang tidak profesional. Aturan-aturan etika yang dikeluarkan berkenaan dengan topik-topik seperti independensi status istimewa dari klien, dan periklanan dan pengumpulan klien.

The Institute of WP melindungi kepentingan ekonomi dari profesi dan berfungsi sebagai partner dalam proses penyusunan standar. Dalam proses penyusunan standar, The Institute of WP berfungsi serupa dengan AICPA di AS. Berkaitan dengan auditing, The Institute of WP mempublikasikan pendapat-pendapat ahli, makalah-makalah, dan penjelasan-penjelasan. Biasanya, rekomendasi-rekomendasi ini diadopsi oleh badan-badan pemerintah dalam mengajukan usulan-usulan perubahan bagi hokum perusahaan. Fungsi-fungsi proses ini sangat mirip dengan hubungan AICPA-SEC di AS.

Sejak 1977, The Institute of WP telah mempublikasikan “Standar-standar yang diterima umum bagi Audit Laporan Keuangan”. Standar-standar ini terkait erat dengan hukum-hukum korporasi dan perusahaan-perusahaan swasta. Hal ini membuat Jerman menjadi satu dari sedikit Negara yang memiliki standar-standar auditing yang telah terbentuk dan diterapkan secara nasional.

Jerman saat ini juga memiliki badan auditor (statutori) tingkat kedua-Vereidigte Buchprufer. Para auditor statutory ini boleh mengaudit laporan keuangan perusahaan-perusahaan swasta (GmbH). 1985 German Comprehensive Accounting Act mewajibkan audit tahunan bagi perusahaan-perusahaan swasta maupun perusahaan-perusahaan publik. Perusahaan-perusahaan kecil bebas dari kewajiban ini.


Jepang
Auditing profesional di Jepang sulit dimengerti. Walaupun hokum AP Jepang telah diratifikasi bulan Juni 1948, dan Japanese Institute of (JICPA) dibentuk tahun 1949, profesi akuntan di Jepang masih berjuang untuk memperoleh status sosial. Sulit untuk menarik lulusan universitas yang bagus ke dalam profesi akuntan. Pegawai sipil tingkat tinggi menikmati gengsi pribadi yang lebih tinggi dibandingkan para pratisi AP. Pertumbuhan jumlah akuntan di Jepang sedang-sedang saja. Jumlah AP yang ada di Jepang pada akhir tahun 1990 adalah sekitar 9.000 orang.

Kesulitan utama yang kedua berhubungan dengan fakta bahwa profesi akuntan di Jepang memiliki berbagai peran. Segala hal tampaknya serba beragam. Ada hokum perusahaan yang berlaku bagi semua perusahaan Jepang dan pada saat yang sama berlaku hokum SEC bagi perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperdagangkan kepada publik. Korporasi-korporasi Jepang yang sebagian keperluan modal jangka panjangnya dibiayai dari luar Jepang biasanya mengikuti standar-standar pelaoran dan auditing Inggris-Amerika. Ini merupakan dimensi ke-3 dari auditing profesional di Jepang.

Sistem politik Jepang secara konsisten beranggapan bahwa setiap penyimpangan dari kode etik perdagangan atau ketetapan- ketetapan implementasi khusus-nya harus dipertimbangkan sebagai penyimpangan terhadap prinsip- prinsip akuntansi yang diterima umum. Standar ini dan perbedaan- perbedaan penerapannya menciptakan kesulitan yang tinggi bagi mereka yang berprofesi sebagai akuntan di Jepang.

Standar Auditing Jepang terdiri dari 10 Standar Auditing (Auditing Standards-AS), dan Ketentuan Pekerjaan Lapangan (Working Rules of Field Work-WRFW) dan Ketentuan Pelaporan (Working Rules of Reporting-WRR) yang dikeluarkan oleh Business Accounting Deliberation Council, yang dilengkapi oleh makalah-makalah yang diterbitkan oleh Komite Audit JICPA (ACP). Commercial Code, Special Measures Law Concerning Audit, Segala Hukum yang menyangkut Kabushiki Kaisha, Peraturan yang Berkenaan dengan Laporan Audit Korporasi Berskala Besar (Menteri Kehakiman), dan Ministerial Ordinance of Audit and Certification of Financial Statements, dsb. (MOA) (Menteri Keuangan juga mengatur Auditing.



Belanda
Orang Belanda merupakan profesional- profesional akuntansi yang mengagumkan. Mereka telah berada pada tingkat pengembangan profesional dan teknis yang tinggi secara internasional. Mereka telah mencapai status yang tinggi melalui penyusunan standard dan pembuatan ketentuan yang minimum. Dutch Institute (NIVRA) telah mengeluarkan pedoman- pedoman dan interpretasi- interpretasi code of conduct, telah mengumumkann sekitar selusin pendapat audit sebagai tuntunan umum bagi anggota-anggotanya, telah menerbitkan sekitar 20 laporan studi mengenai berbagai topik, dan mempublikasikan seri Pilot berbahasa Inggris yang penting bagi profesi.

Meningkatnya kewajiban-kewajiban audit dari EC telah menciptakan bottleneck tidak hanya di Jerman, tetapi juga di semua Negara EC yang berbahasa non-Inggris. Tidak terkecuali Belanda. 1974 Act mengenai Accountants-Administratieconsulenten (AA) telah menciptakan segmen profesi akuntan tingkat kedua di Belanda, yang bias menawarkan jasa-jasa berikut:

1. Merancang dan memelihara catatan-catatan akuntansi, mengulas cara-cara pemeliharaan catatan-catatan tersebut, dan menyiapkan laporan keuangan.

2. Menganalisa dan menginterpretasikan dalam laporan-laporan penjelasan data-data yang diambil dari catatan-catatan perusahaan dan memberikan informasi dan nasehat berkaitan dengan data-data tersebut.

Catat bahwa AA tidak berwewenang untuk melakukan audit independen dan mengeluarkan pendapat atas laporan keuangan. Meskipun begitu, kurangnya RA (CPA-nya Belanda) ditambah meningkatnya kewajiban audit telah memunculkan langkah-langkah tradisional terbatas untuk memudahkan kualifikasi AA tertentu menjadi RA.

Aspek unik lain dari profesi akuntan di Belanda adalah keeratannya dengan pendidikan di universitas-universitas. Banyak praktisi terkemuka juga menjabat sebagai staf pengajar di universitas dan begitu juga sebaliknya. Ini merupakan situasi yang jarang ditemui dalam profesi kedokteran dan hokum di AS. Di Belanda syarat-syarat pendidikan dan pengalaman praktik sangat tinggi ditinjau dari standar internasional.


Sumber: Frederick D.S. CHOI dan Gerhard G. Mueller, “Akuntansi Internasional Edisi Kedua”.


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE

PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN KEUANGAN

Posted: by Tri Suciyati in
0

PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN KEUANGAN

PENGUKURAN VS PENGUNGKAPAN

Pelaporan keuangan mungkin dianggap sebagai sebuah proses. Bedford mengkonseptualisasi proses ini sebagai suatu proses yang terdiri dari 4 langkah procedural:

1. Persepsi aktivitas penting dari entitas akuntansi atau aktivitas penting dalam lingkungan tempat entitas beroperasi. Yang implisit dalam persepsi tradisional adalah kepercayaan bahwa transaksi-transaksi keuangan mewakili aktivitas-aktivitas yang penting.

2. Simbolisasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan sedemikian rupa agar tersedia database aktivitas-aktivitas, yang kemudian dapat dianalisa untuk dapat mendapatkan pemahaman mengenai hubungan timbal balik antara sejumlah besar aktivitas yang dirasakan. Secara konvensional, simbolisasi ini terjadi dalam bentuk pencatatan-pencatatan dalam perkiraan-perkiraan, jurnal-jurnal, dan buku besar-buku besar dengan menggunakan prosedur-prosedur pembukuan dan pengukuran yang telah terbentuk dengan baik.

3. Analisis terhadap model aktivitas untuk mengikhtisarkan, mengorganisir dan mengungkapkan hubungan timbal balik antara aktivitas-aktivitas dan untuk dapat melihat gambar status atau peta dari entitas. Secara tradisional, proses analisis ini dipandang sebagai proses pengembangan laporan-laporan akuntansi untuk menyediakan pemahaman mengenai sifat dari aktivitas-aktivitas entitas.

4. Komunikasi (transmisi) analisi kepada pengguna produk akuntansi untuk menuntun pembuat-pembuat keputusan dalam mengarahkan aktivitas-aktivitas entitas dimasa depan atau dalam mengubah hubungan mereka dengan entitas.


Langkah 1 dan 2 merupakan proses pengukuran akuntansi, “penerapan angka-angka pada phenomena ekonomi masa lalu, sekarang, atau masa depan dari entitas berdasarkan basis observasi dan sesuai dengan aturan-aturan.

Langkan 3 dan 4 dalam proses pelaporan keuangan merupakan pengungkapan, komunikasi pengukuran-pengukuran akuntansi kepada sejumlah pemakai informasi tersebut untuk memudahkan pengambilan keputusan.


Beberapa organisasi-organisasi internasional:

1. United Nations Centre on Transnational Corporations (UNCTC), suatu badan pengumpul informasi dibawah United Nations Economic and Social Council, yang bertugas membangun system informasi yang komprehensif mengenai perusahaan-perusahaan transnasional untuk memudahkan pengawasan atas aktivitas-aktivitas mereka.

2. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), badan beranggotakan 24 negara yang menyediakan kerangka untuk mengharmonisasi kebijakan-kebijakan nasional di banyak bidang (termasuk pengungkapan).

3. Masyarakat Eropa (EC), kesatuan ekonomi regional yang ditujukan untuk mengharmonisasikan kebijakan-kebijakan ekonomi, social, fiskal, dan moneter antar Negara-negara anggotanya.

4. International Accounting Standards Committee (IASC), organisasi akuntansi profesional internasional yang didirikan untuk menyebar-luaskan prinsip-prinsip akuntansi global.

5. International Confederation of Free Trade Unions (ICFTU), salah satu organisasi buruh multinasional yang berfungsi untuk mengawasi perilaku MNC yang berdampak pada ketenagakerjaan pada masa sekarang dan di masa depan.

6. International Organization of Securities Commissions (IOSCO), sebuah organisasi yang beranggotakan pengawas-pengawas sekuritas atau bursa-bursa di berbagai Negara yang berkepentingan dengan standar-standar pengungkapan korporasi.


Sumber: Frederick D.S. CHOI dan Gerhard G. Mueller, “Akuntansi Internasional Edisi Kedua”.


Nama : TRI SUCIYATI
NPM : 21207114
Kelas : 4EB05
Matkul : Akuntansi Internasional
Dosen : Haryono, SE